<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Oinx42's Weblog</title>
	<atom:link href="http://oinx42.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://oinx42.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2009 03:38:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='oinx42.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Oinx42's Weblog</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://oinx42.wordpress.com/osd.xml" title="Oinx42&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://oinx42.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Integrasi Tempat – Waktu – Kondisi – Sikap : sebagai  Perspektif Baru dalam Desain Komunikasi Visual.</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/integrasi-tempat-%e2%80%93-waktu-%e2%80%93-kondisi-%e2%80%93-sikap-sebagai-perspektif-baru-dalam-desain-komunikasi-visual/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/integrasi-tempat-%e2%80%93-waktu-%e2%80%93-kondisi-%e2%80%93-sikap-sebagai-perspektif-baru-dalam-desain-komunikasi-visual/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:09:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Prof. Drs. Yongky Safanayong Pendahuluan Pengertian dan pemahaman tentang Desain Komunikasi Visual atau Desain Grafis kian meluas dalam abad ke-21 ini, Desain pada umumnya semakin erat berurusan dengan segala hal tentang tempat manusia dimana ia berada, hubungan dan relasi antar manusia, relasi dengan lingkungan, relasi dengan waktu/saat desain dibutuhkan dan dibuat. Tempat dan waktu membentuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=45&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prof. Drs. Yongky Safanayong</p>
<p>Pendahuluan</p>
<p>Pengertian dan pemahaman tentang Desain Komunikasi Visual atau<br />
Desain Grafis kian meluas dalam abad ke-21 ini, Desain pada umumnya<br />
semakin erat berurusan dengan segala hal tentang tempat manusia<br />
dimana ia berada, hubungan dan relasi antar manusia, relasi dengan<br />
lingkungan, relasi dengan waktu/saat desain dibutuhkan dan dibuat.<br />
Tempat dan waktu membentuk dan mempengaruhi kondisi khas<br />
masyarakat. Dalam saat atau era informasi seperti sekarang ini, aspek<br />
”manusia”, ”kehidupan” dan ”lingkungannya” yang selaras dengan<br />
tempat, waktu tidak terelakkan lagi dalam strategi desain yang<br />
berperspektif baru.</p>
<p>Pada kenyataan sekarang, banyak perguruan tinggi desain khususnya<br />
desain komunikasi visual dimanapun mengalami persoalan yang sama,<br />
yaitu terputus mata rantai akademik dan dunia nyata, bahwa yang<br />
dipelajari di perguruan tinggi dengan realitas persoalan yang ada di<br />
masyarakat seyogianya tidak jauh berbeda dan sistem pendidikan<br />
yang bertitik berat pada penciptaan dan entrepreneur, bukan pada<br />
pencari kerja. Untuk memperkecil gap atau persoalan yang faktual ini,<br />
dibutuhkan pendekatan baru dalam pendidikan desain yang taktis dan<br />
bernilai beda.</p>
<p>Mengantisipasi masyarakat era informasi, desain komunikasi visual<br />
perlu disikapi sebagai suatu sistem pemecahan masalah yang kreatif<br />
dan inovatif, mengarah kepada kehidupan bermasyarakat yang lebih<br />
sejahtera, lebih bermartabat, lebih nyaman, lebih aman, lebih tertib dan<br />
saling mengasihi.</p>
<p>Dengan semakin intensifnya arus informasi dan interaksi antar<br />
kebudayaan melalui tatanan internasionalisasi, umat manusia akan<br />
saling tergantung satu sama lain dalam kelangsungan hidupnya, ko-<br />
eksistensi terjadi antar negara, baik secara ekonomi maupun secara<br />
sosial budaya, begitu juga dalam dunia desain komunikasi visual,<br />
dipengaruhi dan memberi pengaruh dalam proses modernisasi, dalam<br />
konstelasi disatu sisi kita ingin mengedepankan desain komunikasi visual<br />
berkarakteristik Indonesia, sedangkan disisi lain, seiring modernisasi<br />
berarti ingin mensejajarkan karya desain yang penampilannya ”sama”<br />
dengan karya negara-negara yang sudah maju.</p>
<p>Dalam era informasi ini, insan desain : desainer, pengajar, penulis,<br />
pengamat, pedagang dan pemerhati lingkungan diharapkan tidak<br />
melulu terpaku pada dogma-dogma yang kaku dan ketat, tetapi mampu<br />
melakukan penafsiran umum, evaluasi dan menemukan hakekat<br />
dasarnya sehingga mencapai makna yang tersimpan dibalik semua itu<br />
berdasar integrasi Tempat – Waktu – Kondisi – Sikap. Perlu disadari pula<br />
bahwa aktifitas desain bukan hanya sekedar mengungkapkan makna-<br />
makna simbolik, tetapi lebih jauh dapat menghayati, meningkatkan<br />
identitas/kepribadian. Sadar pula dunia global dewasa ini dengan segala<br />
kemajuannya serta tantangan-tantangannya seperti :<br />
- Pemborosan : energi, pikiran, waktu, biaya dan ruang.<br />
- Kemerosotan moral.<br />
- Rendahnya tingkat kesejahteraan dan kesehatan.<br />
- Kerusakan alam dan lingkungan hidup.<br />
- Perubahan tata nilai.<br />
- Pencarian spiritualitas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=45&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/integrasi-tempat-%e2%80%93-waktu-%e2%80%93-kondisi-%e2%80%93-sikap-sebagai-perspektif-baru-dalam-desain-komunikasi-visual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Animasi: Sebelum Disney</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/sejarah-animasi-sebelum-disney/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/sejarah-animasi-sebelum-disney/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:08:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Comic Strip yang sering kita lihat sehari-hari sebenarnya sudah menjadi tampilan pada dekorasi tembok di Mesir sekitar 2000 tahun sebelum masehi, menceritakan banyak hal yang terjadi di Mesir waktu itu dari mulai tata cara kehidupan keseharian, pemerintahan sampai adu gulat antar prajurit. Leonardo Da Vinci juga menampilkan gerakan tangan yang berputar pada karya besarnya yaitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=43&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Comic Strip yang sering kita lihat sehari-hari sebenarnya sudah menjadi tampilan pada dekorasi tembok di Mesir sekitar 2000 tahun sebelum masehi, menceritakan banyak hal yang terjadi di Mesir waktu itu dari mulai tata cara kehidupan keseharian, pemerintahan sampai adu gulat antar prajurit. Leonardo Da Vinci juga menampilkan gerakan tangan yang berputar pada karya besarnya yaitu Vitruvian Man. Illustrasi malaikat-malaikat pada mural gereja karya Giotto juga memperlihatkan repetisi gerakan yang kontinyu. Di Jepang orang menggunakan gulungan gambar untuk menceritakan cerita panjang sama seperti layaknya Wayang Beber di Jawa. Pada tembok Candi Borobudur juga terdapat urutan cerita tentang perjalan tiga babak Sidharta Gautama.</p>
<p>Namun seiring dengan perjalanan waktu manusia mencoba tidak hanya menangkap gambar tapi juga berupaya membuat karya artistiknya menjadi hidup dan bergerak. Sejak mula gambar babi hutan di dinding gua Altamira-Spanyol Utara hingga perjalanan kematian para Firaun adalah sebuah kronologi panjang yang dicoba untuk dikumpulkan sebagai bahan awal mula dari animasi.</p>
<p>Animasi, sebenarnya tidak akan terwujud tanpa didasari pemahaman mengenai prinsip fundamental kerja mata manusia atau dikenal dengan nama The Persistance of Vision. Seperti ditunjukan pada karya seorang Prancis Paul Roget (1828), penemu Thaumatrope. Sebuah alat berbentuk kepingan yang dikaitkan dengan tali pegas diantara kedua sisinya. Kepingan itu memiliki dua gambar pada sisinya. Satu sisi bergambar burung, satu sisi lainnya bergambar sangkar burung. Ketika kepingan berputar maka burung seolah masuk kedalam sangkarnya. Proses ini ditangkap oleh mata manusia dalam satu waktu, sehingga mengekspose gambar tersebut menjadi gerak.</p>
<p>Dua penemuan berikutnya semakin menolong mata manusia. Phenakistoscope, ditemukan oleh Joseph Plateu (1826), merupakan kepingan kartu berbentuk lingkaran dengan sekelilinganya di penuhi lubang-lubang dan gambar berbentuk obyek tertentu. Mata akan melihat gambar tersebut melalui cermin dan pegas membuatnya berputar sehingga satu serial gambar terlihat secara progresif menjadi gambar yang bergerak kontinyu. Teknik yang sama di tampilkan pada alat bernama Zeotrope, ditemukan oleh Pierre Desvignes (1860), berupa selembar kertas bergambar yang dimasukan pada sebuah tabung.</p>
<p>Phenakistoscope dan Zeotrope</p>
<p>Pengembangan kamera gerak dan projector oleh Thomas Alfa Edison serta para penemu lainnya semakin memperjelas praktika dalam membuat animasi. Animasi akhirnya menjadi suatu hal yang lumrah walaupun masih menjadi “barang” mahal pada waktu itu. Bahkan Stuart Blackton, diberitakan telah membuat membuat film animasi pendek tahun 1906 dengan judul “Humourous Phases of Funny Faces”, dimana prosesnya dilakukan dengan cara menggambar kartun diatas papan tulis, lalu difoto, dihapus untuk diganti modus geraknya dan di foto lagi secara berulang-ulang. Inilah film animasi pertama yang menggunakan “stop-motion” yang dihadirkan di dunia.</p>
<p>Pada awal abad ke dua puluh, popularitas kartun animasi mulai menurun sementara film layar lebar semakin merajai sebagai alternatif media entertainment. Publik mulai bosan dengan pola yang tak pernah berganti pada animasi tanpa didalamnya terdapat story line dan pengembangan karakter. Apa yang terjadi pada saat itu merupakan kondisi dimana mulai terentang jarak antara film layar lebar dan animasi, kecuali beberapa karya misalnya Winsor McCay yang berjudul Gertie the Dinosaur, 1914. McCay telah memulai sebuah cerita yang mengalir dalam animasinya ditambah dengan beberapa efek yang mulai membuat daya tarik tersendiri. Hal ini juga mulai terlihat pada karya Otto Messmer, Felix the Cat.</p>
<p>“Plots? We never bothered with plots. They were just a series of gags strung together. And not very funny, I’m afraid.” – Dick Huemer, 1957</p>
<p>Pada era ini, cerita animasi masih banyak terpengaruh pola cerita klasik, mungkin masih terasa hingga saat ini. Tipikal ceritanya selalu dengan tokoh yang menjadi hero dan musuhnya. Industri animasi mulai kembali menanjak di Amerika manakala komersialiasi mulai merambah dunia tersebut. Cerita and strory line pun mulai beragam disesuaikan dengan demand publik. Industri-industri film raksasa mulai membuat standardisasi animasi yang laku di pasaran. Biaya produksi pun dapat ditekan dan tidak setinggi dulu. Akhirnya kartun mulai memasuki era manufaktur dipertengahan abad ke dua puluh.</p>
<p>« Animasi dari Tangan Suyadi<br />
Walt Disney »</p>
<p>Actions<br />
Comments RSS<br />
Trackback<br />
Information<br />
Date : 6 January 2008<br />
Categories : Animation, Discourse, History<br />
27 responses<br />
11<br />
02<br />
2008<br />
Annurfal Septiandi (20:35:33) :</p>
<p>Assalammualaikum wr.wb.</p>
<p>Menurut saya, perkembangan dunia animasi, komik khususnya perlu mendapat perhatian yang lebih dan mungkin kita harus akui kalau kita memang perlu informasi tentang dunia komik dari masa ke masa, tujuannya jelas, yaitu agar kita tidak hanya bisa mengkonsumsi komik dan animasi tanpa tahu sejarahnya juga latar belakangnya.</p>
<p>Beruntung belakangan ada media cetak (majalah) yang mengkhususkan untuk membahas perkembangan komik dari masa ke masa. Begitu pula dengan artikel yang ada di blog ini sungguh sangat membantu dan menambah wawasan kita. Kita sekarang jadi lebih tahu bahwa komik yang identik dengan kesia-siaan (dimata orang tua kebanyakan umumnya) malah memiliki kisah sejarah yang harus di acungi dua jempol.Bagaimana dulu komik sebelum seperti sekarang adalah benda mahal, tapi sekarang komik sudah merupakan salah satu media atau produk yang menjanjikan dan dapat dinikmati oleh banyak orang dari semua lapisan baik umur maupun golongan.</p>
<p>Komik-komik yang cukup terkenal di masa Indonesia “tempo doeloe” seperti Si Buta Dari Gua Hantu, Mahabharata-Bharatayuda, Gundala Putera Petir, Godam, Aquanus, Panji Tengkorak, Si Mata Syiwa dan masih banyak lagi malah menjadi bahan incaran para kolektor barang antik yang bernilai tinggi.</p>
<p>Kesimpulan saya, masyarakat memang harus mengakui dan jangan memandang sebelah mata tentang komik dan animasi, akuilah kita memang harus menjadikan komik juga sebagai salah satu media aspirasi dan apresiasi, sebagai simbol perkembangan zaman dan asset budaya bangsa karena komik cukup memberikan andil yang nyata untuk perkembangan zaman di negara ini.</p>
<p>Wassalammualaikum. wr.wb.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=43&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/sejarah-animasi-sebelum-disney/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengertian nirmana</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/pengertian-nirmana/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/pengertian-nirmana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:07:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Nirmana adalah pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Nirmana dapat juga diartikan sebagai hasil angan-angan dalam bentuk dwimatra, trimatra yang harus mempunyai nilai keindahan. Nirmana disebut juga ilmu tatarupa. Elemen –elemen seni rupa dapat dikelompokan menjadi 4 bagian berdasarkan bentuknya. Titik, titik adalah suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=41&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nirmana adalah pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Nirmana dapat juga diartikan sebagai hasil angan-angan dalam bentuk dwimatra, trimatra yang harus mempunyai nilai keindahan. Nirmana disebut juga ilmu tatarupa. Elemen –elemen seni rupa dapat dikelompokan menjadi 4 bagian berdasarkan bentuknya.<br />
Titik, titik adalah suatu bentuk kecil yang tidak mempunyai dimensi. Raut titik yang paling umum adalah bundaran sederhana, mampat, tak bersudut dan tanpa arah.<br />
Garis, garis adalah suatu hasil goresan nyata dan batas limit suatu benda, ruang, rangkaian masa dan warna.<br />
Bidang, bidang adalah suatu bentuk pipih tanpa ketebalan, mempunyai dimensi pajang, lebar dan luas; mempunyai kedudukan, arah dan dibatasi oleh garis.<br />
Gempal, gempal adalah bentuk bidang yang mempunyai dimensi ketebalan dan kedalaman.</p>
<p>Penyusunan merupakan suatu proses pengaturan atau disebut juga komposisi dari bentuk-bentuk menjadi satu susunan yang baik. Ada beberapa aturan yang perlu digunakan untuk menyusun bentuk-bentuk tersebut. Walaupun penerapan prinsip-prinsip penyusunan tidak bersifat mutlak, namun karya seni yang tercipta harus layak disebut karya yang baik. Perlu diketahui bahwa prinsip-prinsip ini bersifat subyektif terhadap penciptanya.</p>
<p>Dalam ilmu desain grafis, selain prinsip-prinsip diatas ada beberapa prinsip utama untuk tujuan komunikasi dari sebuah karya desain.<br />
Ruang Kosong (White Space)Ruang kosong dimaksudkan agar karya tidak terlalu padat dalam penempatannya pada sebuah bidang dan menjadikan sebuah obyek menjadi dominan.<br />
Kejelasan (Clarity)Kejelasan atau clarity mempengaruhi penafsiran penonton akan sebuah karya. Bagaimana sebuah karya tersebut dapat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan ambigu/ makna ganda.<br />
Kesederhanaan (Simplicity)Kesederhanaan menuntut penciptaan karya yang tidak lebih dan tidak kurang. Kesederhanaan seing juga diartikan tepat dan tidak berlebihan. Pencapaian kesederhanaan mendorong penikmat untuk menatap lama dan tidak merasa jenuh.<br />
Emphasis (Point of Interest)Emphasis atau disebut juga pusat perhatian, merupakan pengembangan dominasi yang bertujuan untuk menonjolkan salah satu unsur sebagai pusat perhatian sehingga mencapai nilai artistic.<br />
Prinsip – prinsip dasar seni rupa<br />
Kesatuan (Unity)Kesatuan merupakan salah satu prinsip dasar tata rupa yang sangat penting. Tidak adanya kesatuan dalam sebuah karya rupa akan membuat karya tersebut terlihat cerai-berai, kacau-balau yang mengakibatkan karya tersebut tidak nyaman dipandang. Prinsip ini sesungguhnya adalah prinsip hubungan. Jika salah satu atau beberapa unsur rupa mempunyai hubungan (warna, raut, arah, dll), maka kesatuan telah tercapai.<br />
Keseimbangan (Balance)Karya seni dan desain harus memiliki keseimbangan agar nyaman dipandang dan tidak membuat gelisah. Seperti halnya jika kita melihat pohon atau bangunan yang akan roboh, kita measa tidak nyaman dan cenderung gelisah. Keseimbangan adalah keadaan yang dialami oleh suatu benda jika semua dayan yang bekerja saling meniadakan. Dalam bidang seni keseimbangan ini tidak dapat diukur tapi dapat dirasakan, yaitu suatu keadaan dimana semua bagian dalam sebuah karya tidak ada yang saling membebani.<br />
Proporsi (Proportion)Proporsi termasuk prinsip dasar tata rupa untuk memperoleh keserasian. Untuk memperoleh keserasian dalam sebuah karya diperlukan perbandingan –perbandingan yang tepat. Pada dasarnya proporsi adalah perbandingan matematis dalam sebuah bidang. Proporsi Agung (The Golden Mean) adalah proporsi yang paling populer dan dipakai hingga saat ini dalam karya seni rupa hingga karya arsitektur. Proporsi ini menggunakan deret bilangan Fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1,618, sering juga dipakai 8 : 13. Konon proporsi ini adalah perbandingan yang ditemukan di benda-benda alam termasuk struktur ukuran tubuh manusia sehingga dianggap proporsi yang diturunkan oleh Tuhan sendiri. Dalam bidang desain proporsi ini dapat kita lihat dalam perbandingan ukuran kertas dan layout halaman.<br />
Irama (Rhythm)Irama adalah pengulangan gerak yang teratur dan terus menerus. Dalam bentuk –bentuk alam bisa kita ambil contoh pengulangan gerak pada ombak laut, barisan semut, gerak dedaunan, dan lain-lain. Prinsip irama sesungguhnya adalah hubungan pengulangan dari bentuk –bentuk unsur rupa.<br />
Dominasi (Domination)Dominasi merupakan salah satu prinsip dasar tatarupa yang harus ada dalam karya seni dan deisan. Dominasi berasal dari kata Dominance yang berarti keunggulan . Sifat unggul dan istimewa ini akan menjadikan suatu unsure sebagai penarik dan pusat perhatian. Dalam dunia desain, dominasi sering juga disebut Center of Interest, Focal Point dan Eye Catcher. Dominasi mempunyai bebrapa tujuan yaitu utnuk menarik perhatian, menghilangkan kebosanan dan untuk memecah keberaturan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=41&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/pengertian-nirmana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dasar pemakaian warna dalam desain grafis</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/dasar-pemakaian-warna-dalam-desain-grafis/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/dasar-pemakaian-warna-dalam-desain-grafis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:06:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[By Lizard Wijanarko on September 2, 2009 Dalam bisnis non-internet atau bisnis internet, pemilihan warna juga punya peran. Warna-warna memiliki peran dalam menciptakan suasana pembelian, pemerkuat image produk, serta peningkatan citra bisnis anda. Dalam feng shui, warna adalah getaran. Getaran itu selalu kita respon, secara sadar maupun tidak. Warna memengaruhi kenyamanan lingkungan dan mood. Warna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=39&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By Lizard Wijanarko on September 2, 2009</p>
<p>Dalam bisnis non-internet atau bisnis internet, pemilihan warna juga punya peran. Warna-warna memiliki peran dalam menciptakan suasana pembelian, pemerkuat image produk, serta peningkatan citra bisnis anda. Dalam feng shui, warna adalah getaran. Getaran itu selalu kita respon, secara sadar maupun tidak. Warna memengaruhi kenyamanan lingkungan dan mood. Warna yang kita kenakan sehari-hari memengaruhi pandangan orang lain terhadap kita.</p>
<p>Coba perhatikan misal hampir semua bisnis makanan seperti KFC, MC Donald, Pizza hut, boleh dikata semuanya menggunakan warna merah. Mengapa demikian? Konon, warna merah itu menambah nafsu makan. Sehingga para pebisnis banyak menggunakan warna merah dalam bisnis makanan. Saya pun yakin, setiap orang punya warna kesukaan masing-masing. Itu menunjukkan bahwa ada hubungan antara warna dengan manusia. Seperti halnya mungkin ketika kita memilih warna busana seperti disampaikan Mbak Sari. Kekuatan warna bisa mempengaruhi sisi emosional kita.</p>
<p>Kuning<br />
Respon Psikologi: Optimis, Harapan, Filosofi, Ketidak jujuran, Pengecut (untuk budaya Barat), pengkhianatan, pencerahan dan intelektualitas. Kuning adalah warna keramat dalam agama Hindu. Kuning adalah warna yang hangat. Cukup menarik perhatian dan sangat baik jika dijadikan background untuk teks hitam karena akan lebih mencolok terlihat.</p>
<p>Oranye<br />
Respon Psikologi: Energy, Keseimbangan, Kehangantan. Menekankan sebuah produk yang tidak mahal.</p>
<p>Merah<br />
Respon Psikologi: Power, energi, kehangatan, cinta, nafsu, agresi, bahaya, berpendirian, dinamis, dan percaya diri<br />
Warna Merah kadang berubah arti jika dikombinasikan dengan warna lain. Merah dikombinakan dengan Hijau, maka akan menjadi simbol Natal. Merah jika dikombinasikan denga Putih, akan mempunyai arti ‘bahagia’ di budaya Oriental. Bisa berarti berani dan semangat yang berkobar-kobar. Singkatnya secara umum berhubungan dengan perasaan yang meledak-ledak. Warna merah mudah menarik perhatian dan meningkatkan nafsu. Karena itu seperti saya katakan tadi, bisnis makanan banyak menggunakan warna dominan merah karena ini dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan pembeli, lihat saja warna pizza hut, McD, KFC yang juga ada merahnya.<br />
Atau kalau untuk teks, warna merah pasti akan lebih menarik perhatian dibanding warna lain. Namun jika untuk background dengan teks hitam, akan membuat mata cepat lelah.</p>
<p>Biru<br />
Respon Psikologi: Kepercayaan, Konservatif, Keamanan, Tehnologi, Kebersihan, Keteraturan, Damai, menyejukkan, spiritualitas, kontemplasi, misteri, dan kesabaran.<br />
Banyak digunakan sebagai warna pada logo Bank di Amerika Serikat untuk memberikan kesan tenang, terpercaya, ilmu dan wawasan. Warna ini sangat baik untuk menumbuhkan loyalitas konsumen. Bank-bank banyak menggunakan warna biru sebagai warna dominannya, demikian juga pendidikan.</p>
<p>Hijau<br />
Respon Psikologi: Alami, Sehat, Keberuntungan, Pembaharuan, pertumbuhan, kesuburan, harmoni, optimisme, kebebasan, dan keseimbangan<br />
Warna Hijau tidak terlalu ’sukses’ untuk ukuran Global. Di Cina dan Perancis, kemasan dengan warna Hijau tidak begitu mendapat sambutan. Tetapi di Timur Tengah, warna Hijau sangat disukai. Banyak produk yang menekankan kealamian produk menggunakan warna ini sebagai pilihan. Untuk perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan eksplorasi alam, warna hijau banyak dipakai untuk menegaskan bahwa perusahannya berwawasan lingkungan. Warna ini termasuk yang sedang ngetren dan akan banyak dipakai khususnya dengan kampanye yang berhubungan dengan lingkungan. Kemasan deterjen juga tidak sedikit yang menggunakan warna hijau.</p>
<p>Ungu atau Jingga<br />
Respon Psikologi: Spiritual, Misteri, Kebangsawanan, Transformasi, Kekasaran, Keangkuhan, Ramah, Romantis, dan Mandiri.<br />
Warna Ungu sangat jarang ditemui di alam. Ungu adalah capuran warna merah dan biru. Menggambarkan sikap ‘gempuran’ keras yang dilambangkan dengan warna biru. Perpaduan antara keintiman dan erotis atau menjurus ke pengertian yang dalam dan peka. Bersifat kurang teliti namun penuh harapan.</p>
<p>Coklat<br />
Respon Psikologi: Tanah/Bumi, Reliability, Comfort, Daya Tahan, Stabilitas, Bobot, Kestabilan dan Keanggunan.<br />
Kemasan makanan di Amerika sering memakai warna Coklat dan sangat sukses, tetapi di Kolumbia, warna Coklat untuk kemasan kurang begitu membawa hasil.</p>
<p>Hitam<br />
Respon Psikologi: Ketakutan, Power, Kecanggihan, Kematian, Misteri, Seksualitas, Kesedihan, Keanggunan, dan Independen, Berwibawa, Penyendiri, Disiplin, dan Berkemauan keras.<br />
Melambangkan kematian dan kesedihan di budaya Barat. Sebagai warna Kemasan, Hitam melambangakan Keanggunan (Elegance), Kemakmuran (Wealth) dan Kecanggihan (Sopiscated). Menunjukkan hal yang tegas, elegan, dan eksklusif. Juga bisa mengandung makna rahasia. Seperti ketika saya memilih warna dominan hitam pada Rahasia Blogging.warnatersebut sangat mendukung kata “rahasia” yang ingin saya tekankan.<br />
Kalau untuk warna mobil, biasanya mobil berwarna hitam lebih mahal daripada mobil berwarna lain.</p>
<p>Putih<br />
Warna suci dan bersih, natural, kosong, tak berwarna, netral, awal baru, kemurnian dan kesucian<br />
Warna yang sangat bisa dipadukan dengan warna apapun. Warna putih di situs web banyak dipakai sebagai warna background teks hitam. Sebab pengunjung akan lebih mudah untuk membacanya.</p>
<p>Abu Abu<br />
Respon Psikologi: Intelek, Masa Depan (kayak warna Milenium), Kesederhanaan, Kesedihan.<br />
Warna Abu abu adalah warna yang paling gampang/mudah dilihat oleh mata.</p>
<p>Kesimpulan<br />
Warna sebagai termasuk dalam ranah nirmana. Terkadang pemakaian warna sangat membantu dalam pemilihan font dalam typografi. Kemampuan penguasaan budaya dan warna sangat berpengaruh dalam menentukan sebuah warna dalam pemakaian ke dalam produk desain, oleh karenanya penguasan warna merupakan syarat penting untuk desainer pemula. Meski demikian, arti warna bisa bergantung juga dengan bidang tertentu, budaya, agama, dan adat setempat. Warna kuning bisa berasosiasi dengan partai politik tertentu kalau dalam politik; sementara kalau dalam kehidupan sehari-hari, bendera kuning yang dipasang di rumah seseorang, itu pertanda tengah terjadi peristiwa berkabung. Sementara bank syariah hampir pasti selalu dihiasi dengan warna hijau yang berasosiasi dengan agama tertentu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=39&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/dasar-pemakaian-warna-dalam-desain-grafis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengertian desain grafis</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/pengertian-desain-grafis/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/pengertian-desain-grafis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Desain Grafis: adalah salah satu bentuk seni lukis (gambar) terapan yang memberikan kebebasan kepada sang desainer (perancang) untuk memilih, menciptakan, atau mengatur elemen rupa seperti ilustrasi, foto, tulisan, dan garis di atas suatu permukaan dengan tujuan untuk diproduksi dan dikomunikasikan sebagai sebuah pesan. Gambar maupun tanda yang digunakan bisa berupa tipografi atau media lainnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=37&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Definisi Desain Grafis: adalah salah satu bentuk seni lukis (gambar) terapan yang memberikan kebebasan kepada sang desainer (perancang) untuk memilih, menciptakan, atau mengatur elemen rupa seperti ilustrasi, foto, tulisan, dan garis di atas suatu permukaan dengan tujuan untuk diproduksi dan dikomunikasikan sebagai sebuah pesan. Gambar maupun tanda yang digunakan bisa berupa tipografi atau media lainnya seperti gambar atau fotografi.Desain grafis umumnya diterapkan dalam dunia periklanan, packaging, perfilman, dan lain-lain.</p>
<p>Desain Grafis juga merupakan ilmu yang mempelajari tentang media untuk menyampaikan informasi, ide, konsep, ajakan dan sebagainya kepada khalayak dengan menggunakan bahasa visual. Baik itu berupa tulisan, foto, ilustrasi dan lain sebagainya. Desain grafis adalah solusi komunikasi yang menjembatani antara pemberi informasi dengan publik, baik secara perseorangan, kelompok, lembaga maupun masyarakat secara luas yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi visual.</p>
<p>Sebagaimana layaknya informasi yang disampaikan menggunakan bahasa lisan (suara) yang dapat disampaikan secara tegas, ceria, keras, lembut, penuh gurauan, formal, dan sebagainya dengan menggunakan gaya bahasa dan volume suara yang sesuai, Desain grafis juga dapat melakukan hal serupa. Kita dapat merasakan sendiri setelah membaca sebuah berita (tulisan), melihat foto atau ilustrasi, melihat permainan warna dan bentuk dari sebuah karya design yang berbentuk publikasi cetak, nuansa yang ditimbulkannya. Apakah informasi itu tegas, formal, bergurau, lembut, anggun, elegan dan sebagainya.</p>
<p>Kenapa kita dapat merasakan hal itu? Kenapa obyek publikasi itu bisa menimbulkan kesan dan pesan sesuai dengan yang ingin disampaikan hingga dimengerti oleh kita sebagai pembaca? Jawabannya adalah karena adanya unsur-unsur design dan prinsip-prinsip design yang ada dalam sebuah karya design tersebut, baik disadari maupun tidak disadari oleh pembuatnya.</p>
<p>Ada beberapa tokoh menyatakan pendapatnya tentang desain grafis :</p>
<p>Menurut Suyanto desain grafis didefinisikan sebagai &#8221; aplikasi dari keterampilan seni dan komunikasi untuk kebutuhan bisnis dan industri&#8221;. Aplikasi-aplikasi ini dapat meliputi periklanan dan penjualan produk, menciptakan identitas visual untuk institusi, produk dan perusahaan, dan lingkungan grafis, desain informasi, dan secara visual menyempurnakan pesan dalam publikasi.<br />
Sedangkan Jessica Helfand dalam situs http://www.aiga.com/ mendefinisikan desain grafis sebagai kombinasi kompleks kata-kata dan gambar, angka-angka dan grafik, foto-foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-eleman ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus, sangat berguna, mengejutkan atau subversif atau sesuatu yang mudah diingat.<br />
Menurut Danton Sihombing desain grafis mempekerjakan berbagai elemen seperti marka, simbol, uraian verbal yang divisualisasikan lewat tipografi dan gambar baik dengan teknik fotografi ataupun ilustrasi. Elemen-elemen tersebut diterapkan dalam dua fungsi, sebagai perangkat visual dan perangkat komunikasi.<br />
Menurut Michael Kroeger visual communication (komunikasi visual) adalah latihan teori dan konsep-konsep melalui terma-terma visual dengan menggunakan warna, bentuk, garis dan penjajaran (juxtaposition).<br />
Warren dalam Suyanto memaknai desain grafis sebagai suatu terjemahan dari ide dan tempat ke dalam beberapa jenis urutan yang struktural dan visual.<br />
Sedangkan Blanchard mendefinisikan desain grafis sebagai suatu seni komunikatif yang berhubungan dengan industri, seni dan proses dalam menghasilkan gambaran visual pada segala permukaan<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Kategori Desain Grafis<br />
Secara garis besar, desain grafis dibedakan menjadi beberapa kategori:<br />
1. Printing (Percetakan) yang memuat desain buku, majalah, poster, booklet, leaflet, flyer, pamflet, periklanan, dan publikasi lain yang sejenis.<br />
2. Web Desain: desain untuk halaman web.<br />
3. Film termasuk CD, DVD, CD multimedia untuk promosi.<br />
4. Identifikasi (Logo), EGD (Environmental Graphic Design) : merupakan desain professional yang mencakup desain grafis, desain arsitek, desain industri, dan arsitek taman.<br />
5. Desain Produk, Pemaketan dan sejenisnya.</p>
<p>SAMBUNGANNYA&#8230;</p>
<p>Bidang Komunikasi Grafis</p>
<p>Komunikasi Grafis merupakan bidang profesi yang berkembang sangat pesat sejak Revolusi Industri (abad ke-19) disaat informasi melalui media cetak makin luas digunakan dalam perdagangan (iklan, kemasan), penerbitan (koran, buku, majalah) dan informasi seni budaya. Perkembangan bidang ini erat hubungannya dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat yang dapat dipetik dari keakuratan penyampaian informasi pada masyarakat.<br />
Perkembangan di atas juga dipacu oleh kesadaran yang makin tinggi pada efektivitas bahasa rupa (visual) dalam komunikasi masa kini. Bila pada awal munculnya mesin cetak abad ke-15 istilah bidang ini adalah“graphic arts” yang masih dikonotasikan dengan seni, maka abad ke-20 istilahnya menjadi “graphic communication” atau juga “visual communication”. Hal ini menggambarkan peranan komunikasi sebagai</p>
<p>kunci profesi dalam bidang ini.</p>
<p>Saat ini peranan komunikasi yang diemban makin beragam: informasi umum (information graphics, signage), pendidikan (materi pelajaran dan ilmu pengetahuan, pelajaran interaktif pendidikan khusus), persuasi (periklanan, promosi, kampanye sosial) dan pemantapan identitas (logo, corporate identity, branding). Munculnya istilah “komunikasi visual” sebenarnya juga merupakan akibat dari makin meluasnya media yang dicakup dalam bidang komunikasi lewat bahasa rupa ini: percetakan / grafika, filem dan video, televisi, web design dan CD interaktif.</p>
<p>Perkembangan itu telah membuat bidang ini menjadi kegiatan bisnis yang sekarang sangat marak melibatkan modal besar dan banyak tenaga kerja. Kecepatan perkembangannya pun berlomba dengan kesiapan tenaga penunjang pada profesi ini. Karena itu perlu disiapkan suatu standar yang dapat jadi acuan bagi tenaga kerja dalam profesi ini, baik dalam posisinya dalam jenjang ketenagakerjaan maupun dalam perencanaan pendidikan penunjangnya.</p>
<p>Standardisasi yang saat ini dibuat tak mungkin menahan laju perkembangan bidang Komunikasi Grafis. Tetapi dengan melihat apa yang telah terjadi baik di negeri orang maupun di negeri sendiri, diharapkan usaha membuat acuan dapat mengantisipasi cukup panjang menghadapi perkembangan bidang ini.</p>
<p>Komunikasi Grafis dan Komunikasi Visual</p>
<p>Tugas penyusunan kompetensi ini adalah pada bidang Komunikasi grafis, istilah yg diberikan oleh Dikmenjur setelah berkonsultasi dengan Ditjen Grafika. Kata Grafis sendiri mengandung dua pengertian:<br />
(1) Graphein (lt.= garis, marka) yang kemudian menjadi Graphic Arts atau Komunikasi Grafis,<br />
(2) Graphishe Vakken (bld=pekerjaan cetak) yang di Indonesia menjadi Grafika, diartikan sebagai percetakan.</p>
<p>Dalam pengertian ini Komunikasi Grafis adalah pekerjaan dalam bidang komunikasi visual yang berhubungan dengan grafika (cetakan) dan/atau pada bidang dua dimensi dan statis (tidak bergerak dan bukan time-based images).</p>
<p>Dasar terminologi perlu untuk menjelaskan beda antara Komunikasi Grafis dengan Komunikasi Visual.</p>
<p>Komunikasi visual merupakan payung dari berbagai kegiatan komunikasi yang menggunakan unsur rupa (visual) pada berbagai media: percetakan / grafika, luar ruang (marka grafis, papan reklame), televisi, film/video, internet dll, dua dimensi maupun tiga dimensi, baik yang statis maupun bergerak (time based).</p>
<p>Sedangkan Komunikasi Grafis merupakan bagian dari Komunikasi Visual dalam lingkup statis, dua dimensi, dan umumnya berhubungan dengan percetakan / grafika. Dalam lingkup terminologi ini standar kompetensi Komunikasi Grafis dibuat.</p>
<p>Bidang profesi Komunikasi Grafis meliputi kegiatan penunjang dalam kegiatan penerbitan (publishing house), media massa cetak koran dan majalah, periklanan (advertising), dan biro grafis (graphic house, graphic boutique, production house). Selain itu komunikasi grafis juga menjadi penunjang pada industri non-komunikasi (lembaga swasta / pemerintah, pariwisata, hotel, pabrik / manufaktur, usaha dagang) sebagai inhouse graphics di departemen promosi ataupun tenaga grafis pada departemen public relation perusahaan.</p>
<p>Pekerjaan Komunikasi Grafis meliputi olah gambar/images (gambar ilustrasi, fotografi), olah teks/tipografi (cipta dan susun huruf) dan penggabungan unsur teks dan images ke dalam rancangan/design yang siap dilaksanakan. Dalam kenyataan di lapangan, situasi kegiatan komunikasi grafis di Indonesia tak sepenuhnya seperti diagram umum di atas. Olah huruf / type design &amp; typography yang di beberapa negara maju merupakan profesi khusus ( mendesain font / typeface, hand lettering, tipografi / olahan tata huruf ) di Indonesia tak berkembang menjadi bidang profesi tersendiri (pernyataan Bp. Danton Sihombing MFA pakar bidang huruf). Di Indonesia olah huruf pada era digital dikerjakan sendiri di komputer oleh desainer ataupun operator atas petunjuk desainer. Meski ada juga yang olah huruf khusus seperti hand lettering dan Kaligrafi tidak merupakan bidang</p>
<p>spesialisasi profesi yang berkembang baik. Karena itu dalam standar kompetensi komunikasi grafis ini olah huruf/tipografi tak dibuat sebagai sub-bidang kompetensi tersendiri, tetapi menjadi subkompetensi untuk sub bidang desain grafis.</p>
<p>bidang Komunikasi Grafis dipilah menjadi 3 sub-bidang:</p>
<p>Desain Grafis: merancang / menyusun bahan (huruf, gambar dan unsur grafis lain) menjadi informasi visual pada media (cetak) yang dimengerti publik.</p>
<p>Ilustrasi: menampilkan informasi dengan ketrampilan gambar tangan dan penuangan daya imajinasi.</p>
<p>Fotografi: menampilkan informasi dengan ketrampilan menangkap cahaya melalui kamera dankepiawaian memilih / mengolah hasil bidikan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=37&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/pengertian-desain-grafis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Poster Indonesia Belum Memiliki Ciri Khas</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/poster-indonesia-belum-memiliki-ciri-khas/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/poster-indonesia-belum-memiliki-ciri-khas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Poster-poster di Indonesia hingga saat ini belum memiliki ciri khas. Bahkan, dalam bidang komersial dapat dikatakan tidak ada poster yang bagus. Berbeda dengan poster-poster Polandia atau Jepang, hanya dengan melihat beberapa poster saja kita dapat langsung mengetahui bahwa itu adalah poster Polandia atau Jepang karena mereka memiliki region/national style. “Tetapi kalau kita mencoba melihat masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=35&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Poster-poster di Indonesia hingga saat ini belum memiliki ciri khas. Bahkan, dalam bidang komersial dapat dikatakan tidak ada poster yang bagus. Berbeda dengan poster-poster Polandia atau Jepang, hanya dengan melihat beberapa poster saja kita dapat langsung mengetahui bahwa itu adalah poster Polandia atau Jepang karena mereka memiliki region/national style.</p>
<p>“Tetapi kalau kita mencoba melihat masa tahun 1930-an ke bawah, ada poster seniman Indonesia yang masih dipengaruhi grafikus Belanda yang masih menganut Dutch Victorian, Dutch Moderne atau Dutch Deco. Hampir seperti plakat steel, punya cara steelasi yang sangat gamblang, warna-warnanya masih murni dan mendominasi dunia perdagangan. Mungkin juga karena ada jarak yang bersifat nostalgia, maka ketika melihat poster-poster itu rasanya bagus,” kata Wagiyono, praktisi grafis, dalam diskusi “Perkem-bangan Seni/Desain Poster Indonesia” di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (15/4).<br />
Selain Wagiono, pada diskusi tersebut juga tampil praktisi grafis Irvan Noek’man yang mempresentasikan perkembangan poster-poster Indonesia sejak masa Belanda hingga poster partai-partai peserta pemilihan umum yang baru lalu.</p>
<p>Menurut Wagiono, pada poster Polandia ada satu tradisi art yang berkembang pada seni Eropa yang sebetulnya masih berbekas terus-menerus. “Lima saja poster Polandia dipamerkan, kita akan langsung tahu bahwa itu poster Polandia,” katanya. Hal seperti ini tidak banyak terjadi di tempat lain. Yang punya sifat seperti itu adalah poster Jepang. Menurut Wagiono, tidak banyaknya negara lain yang seperti itu karena mereka terlalu berorientasi pada gaya internasional dan mencoba mencari satu gaya yang universal.</p>
<p>Poster-poster Indonesia yang menarik, kata Wagiono, justru terjadi di dunia yang tidak komersial, tetapi lebih banyak di pertunjukan-pertunjukan yang berkaitan dengan teater, tari, musik, film dan pariwisata. “Di film pun kita akan melihat film-film yang serius yang dibuat oleh Teguh Karya. Poster-posternya biasanya juga lebih berhati-hati. Akan tetapi kebanyakan di dalam film Benyamin S atau Warkop memang dibuat tidak dengan keinginan menjadi poster yang bagus, tetapi hanya keinginan untuk menarik masyarakat, apalagi film-film yang panas,” ujar Wagiono.</p>
<p>Hal yang sama juga belum terjadi pada desain. “Kita bisa saja mengumpulkan karya-karya desain grafis dan kita cocokkan. Saya kira ini isu besar di samping suatu desain yang memberikan kesempatan dan kebebasan berekspresi, berkreasi tetapi juga sebetulnya kita harus mempunyai ciri yang sangat kuat menjadi suatu region style atau national style yang bisa kita banggakan,” ucap Wagiono.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=35&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/poster-indonesia-belum-memiliki-ciri-khas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Design+Style Magazine</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/designstyle-magazine/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/designstyle-magazine/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Di awal abad ke 20, banyak majalah yang terbit khusus mengulas mengenai berbagai aliran pada desain grafis; poster, tipografi, dan litografi. Berangsur-angsur, sesuai dengan perkembangan waktu, di mana publikasi makin jauh jangkauannya, di antara majalah-majalah tersebut sudah ada yang mencakup semua aspek di segala bidang. Ada satu majalah grafis yang memposisikan Switzerland sebagai pusat desain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=33&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di awal abad ke 20, banyak majalah yang terbit khusus mengulas mengenai berbagai aliran pada desain grafis; poster, tipografi, dan litografi. Berangsur-angsur, sesuai dengan perkembangan waktu, di mana publikasi makin jauh jangkauannya, di antara majalah-majalah tersebut sudah ada yang mencakup semua aspek di segala bidang.</p>
<p>Ada satu majalah grafis yang memposisikan Switzerland sebagai pusat desain grafis era sesudah perang dunia II. Namanya Graphis, pertama kali dipublikasikan di Zurich tahun 1944. Format dari majalah tersebut menggunakan beberapa tatacara pradigma; layout menggunakan grid, publikasi dengan menggunakan 3 bahasa, yaitu: Prancis, Jerman dan Inggris. Selain terfokus ke grafis desain kontemporer, majalah ini juga menampilkan ulasan historikal, teknik cetak mencetak dan seni grafis, serta semua yang dianggap seperti kerajinan, namun bertentangan dengan industri desain grafis.</p>
<p>Tampilan sebuah majalah tergantung dari keputusan desain mengenai format, cover, internal pase, dan isi artikel, sama seperti pemilihan jenis huruf dan penerapan image untuk desain satu halaman. Art Director—yang mengkoordinasi semua elemen—diakui sebagai suatu aktivitas, pertama kali “diproklamirkan” di Amerika Serikat tahun 1920, di mana sebuah badaan yang bernama Art Directors Club terkenal sebagai satu divisi tenaga kerja yang mempunyai spesialisasi dalam bidang desain untuk sebuah publikasi.</p>
<p>Desain majalah modern mencapai puncak kejayaannya di tahun 1950 dan 1960-an dengan adanya New York Style (desain dengan gaya New York).</p>
<p>Tapi di akhir abad ini, gambaran umum mengenai majalah menjadi banyak macamnya dan ini (New York Style) hanya menjadi satu dari banyak style yang bisa ditiru. Style majalah dalam 20 tahun terakhir mempunyai kontribusi dalam perubahan ini dengan munculnya tantangan pemikiran mengenai desain dan isi. Tantangan ini muncul sebagai reaksi atas majalah-majalah yang sudah mapan. Tapi didominasi oleh sponsor. Pada tahun pertama, beberapa style majalah menentang ketentuan yang ada untuk menarik generasi muda, khususnya mereka yang mengerti topik yang sedang “in” dan satu bahasa dalam segala pandangan. Kategori baru ini bernama “infotainment”, di mana mereka mengundang pembaca untuk melihat dan menambah pengetahuan tentang musik, pakaian, desain, film, dan olahraga. Demi identitas baru ini, mereka berani menolak sponsor yang tidak sejalan dan satu bahasa dengan pembaca mereka.</p>
<p>Terry Jones, co-editor dan art director dari i-D, keluar dari Vogue untuk membuat majalah baru yang lebih independen. Alasan lainnya adalah ketertarikannya dalam mengikuti perkembangan gaya dan budaya anak muda di Inggris. Majalahnya yang baru ini mencakup fashion, musik, film, pameran, dan tari. Khususnya memberi ruang untuk Punk, Post Punk, dan aliran baru romantisisme. Ketika pemerintahan konservatif Margaret Thatcher berlawanan dengan tujuan generasi muda, ide kreatif dan negaranya yang banyak pengangguran, slogan i-D—“Do it with your self”—seakan menyadarkan pembacanya, bahwa mereka tidak butuh mode kelas tinggi. Laporan pertama i-D adalah mengenai fashion jalanan.</p>
<p>Nama i-D didapat dari singkatan untuk “identity” dan logonya yang bergambar orang tersenyum dan mengedipkan mata juga diambil dari nama i-D itu sendiri. Cover pertamanya dicetak dengan tinta pendar dan bahan pokok dengan format landscape, lalu berubah untuk kesempurnaan penjilidan, dan format vertikal yang konvensional untuk kebutuhan display di toko-toko. Memfokuskan liputannya hanya pada fashion, sehingga majalah ini pernah dijuluki sebagai “The Ultimate Fashion Victim’s Bible”.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, typographer Inggris, guru dan editor majalah Herbert Spencer menemukan majalah Typgraphica. Pada tahun 1967 ia menulis: “Saya mulai merencanakan Typographica, pada musum gugur 1948, karena saya percaya hal ini adalah satu kebutuhan penting untuk majalah, terutama untuk typografi, yang akan dilihat oleh jangkaun internasional dan mengupas, serta menganalisis yang ada.”</p>
<p>Typographica pertama muncul dalam format yang besar dan konvensional namun menarik, dan layout yang didapat dari buku typografi. Majalah ini mengulas mengenai literatur typografi untuk para pencetak dan desainer, juga termasuk di dalamnya bisnis cetak dan perubahan teknik pada industri. Tahap demi tahap, Spencer memperkenalkan kepada pembacanya desainer Eropa semasa perang, seperti Werkman, Bill el Lissizky, Rodchenco, Bayer, Sanberg, Barlewi, Zwart dan Shcuitema. Seperti membuat catatan sejarah, Spencer menampilkan para seniman kontemporer, penyair, dan typographer, seperti Edward Wright, Massin, Diter Rot (sebelumnya dikenal dengan Dieter Roth) dan Richard Hamilton,—Spencer menyebut mereka sebagai “Pioneers of modern typography”—yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi.</p>
<p>Seri kedua majalah-majalah, dimulai pada tahun 1960, lahirnya modernisme pada penampilan. Kertas warna, huruf bertekstur atau lembar transparan dan format yang lebih kecil dan ramping dikombinasikan untuk memberi kesan kontemporer.</p>
<p>Pada seri kedua ini, banyak ditampilkan elemen-elemen yang aneh/unik pada majalah di mana penulisan artikelnya menggunakan bahasa daerah/tradisi. Selama bertahun-tahun karangan visual dipublikasikan pada subjek seperti tanda/rambu lalu lintas, coal-hole covers, Dutch Chocolate Latters dan masih banyak lagi. Perhatian pada huruf dan ornamen tradisional mencerminkan bagaimana bertahannya modernisme di Inggris—yang merupakan penggabungan antara sensibilitas romantic dan daya tarik kosmopolitan Eropa.</p>
<p>Pada tahun 1958, ketika Neue Grafik pertama kali dipublikasikan, Switzerland secara luas diakui sebagai pusat fungsional desain grafis modern. Melalui para desainer dan kontribusi mereka pada pendidikan desain grafis—tapi yang paling signifikan adalah publikasi mereka yang diarahkan pada masyarakat iternasional—membuat reputasi negara ini tetap terjaga.</p>
<p>Neu Grafik berlanjut sampai tahun 1965, dengan desain tampilan yang konsisten. Pada Co-editornya antara lain Josef Muller-Brockmann dan Han S Neuburg, pelukis Richard P. Lohse, dan Carlo Vivarelli, seorang arsitek dan seniman yang bekerja pada studio Boggeri. Dengan empat kolom grid dan teks dalam bahasa Jerman, Inggris dan Prancis, majalah dikemas secara rasional, desain yang konstrukstiv, melahirkan beberapa aturan sistem desain, dan berfungsi sebagai alat komunikasi publik. Semua itu merepresentasikan puncak kejayaan era modernisme sebelum terjadinya perubahan sosial dan budaya di akhir tahun 60-an.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=33&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/designstyle-magazine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Legalitas Transaksi dalam Bisnis Disain Grafis</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/legalitas-transaksi-dalam-bisnis-disain-grafis/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/legalitas-transaksi-dalam-bisnis-disain-grafis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Kini dengan besarnya kebutuhan tenaga disain grafis banyak bermunculan penyedia jasa disain grafis dari yang secara perorangan hingga yang berbentuk badan hukum komersial. Bidang yang kental dengan ‘karya-cipta’ ini telah banyak digandrungi oleh generasi muda hingga jumlah tenaga ahli dibidang ini berkembang pesat dan tidak sedikit diantaranya yang mulai berbisnis jasa disain grafis. Bagi pemula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=31&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kini dengan besarnya kebutuhan tenaga disain grafis banyak bermunculan penyedia jasa disain grafis dari yang secara perorangan hingga yang berbentuk badan hukum komersial. Bidang yang kental dengan ‘karya-cipta’ ini telah banyak digandrungi oleh generasi muda hingga jumlah tenaga ahli dibidang ini berkembang pesat dan tidak sedikit diantaranya yang mulai berbisnis jasa disain grafis. Bagi pemula legalitas transaksi sangat penting untuk dipahami. Karena pemula relatif rentan termanfaatkan atas kelemahan daya tawarnya. Dalam artikel ini ada baiknya saya berbagi akan pengalaman saya ketika pertama kali memulai berbisnis dengan perusahaan besar, agar dari pengalaman ini dapat dipetik maknanya sebagai pelajaran khususnya bagi pemula.</p>
<p>Awalnya saya tidak menganggap mendisain itu sebagai bisnis, saya anggap hanya hobi dan sekedar untuk membantu teman yang memerlukannya. Suatu saat saya diperkenalkan oleh teman dekat saya dengan staff salah satu perusahaan asuransi besar di Jakarta yang sedang memerlukan keahlian saya untuk mendisain majalah perusahaan serta mendisain dan mencetak beberapa macam poster perusahaan tersebut.</p>
<p>Saat itu dengan sifat rendah hati saya, saya bersedia saja dibayar dengan jumlah sekehendak staff perusahaan tersebut, seperti halnya membantu teman saja. Jadi saat itu saya hanya sekedar ingin menjalin hubungan baru yang baik. Karena menurutnya hubungan ini akan terus berkelanjutan berhubung majalah itu akan terus diterbitkan dan masih banyak material lain yang butuh keahlian ini. Untuk kepastian transaksi saya minta agar disusun perjanjian atas teknis pelaksanaan pekerjaan antara saya dan perusahaan tersebut. Itu-pun saya yang minta, jika saya tidak minta nampaknya akan diabaikan oleh mereka.</p>
<p>Seiring dengan penyusunan perjanjian tersebut saya sudah diminta mulai duluan mengerjakan disain majalah dan poster tersebut. Hampir setiap pagi saya diburu dengan berbagai koordinasi agar bisa selesai dengan deadline yang sangat singkat. Di pertengahan, perjanjian tersebut baru diserahkan pada saya. “Jim lu tanda tangan disini ya!” ucap staff perusahaan tersebut yang secara implisit meminta agar saya langsung menandatangani perjanjian tersebut agar urusan cepat selesai. Lalu atas rasa saling percaya saya bersedia langsung menandatangani perjanjian tersebut tanpa sempat mempelajari lebih dahulu seluruh isinya. Bagi saya yang penting ketika itu saya telah melihat angka nominal yang akan dibayarkan pada saya sesuai kesepakatan.</p>
<p>Setelah pekerjaan selesai, pembayaran berlangsung lancar seolah-olah tiada permasalahan. Namun setelah saya teliti ulang isi perjanjian tersebut, disebutkan Soft Copy hasil disain menjadi hak milik Perusahaan, dan perusahaan berhak mengubah serta memperbanyak tanpa pemberitahuan kepada pihak manapun. Dan akhirnya memang benar, selanjutnya Soft Copy Final ArtWork saya mereka manfaatkan kembali untuk kreatif disain majalah edisi selanjutnya dan disitu saya sudah tidak dilibatkan lagi, ‘iming-iming’ transaksi berkelanjutan ternyata hanya tipuan belaka agar saya mau dibayar sangat rendah. Tindakan itu secara hukum telah mereka susun agar dapat dibenarkan walau secara etika moral perbuatan merampas hak cipta sangat tidak terpuji. Sungguh malang saya saat itu, mudah sekali dibodohi dianggap sebagai disainer murahan lalu dibuang begitu saja.</p>
<p>Dari pengalaman saya tersebut hal yang perlu dicatat adalah :</p>
<p>1. Setiap transaksi formal harus ada legalitasnya baik berupa pernyataan dalam kuitansi atau jika diperlukan berupa perjanjian formal. Dan Jangan memulai pekerjaan sebelum ada kepastian legalitas tersebut. Karena sebaiknya kepercayaan timbul setelah ada kepastian, walau yang anda hadapi adalah teman anda sendiri.</p>
<p>2. Selalu yakinkan legalitas transaksi baik berupa perjanjian formal, pernyataan dibalik order-form, faktur, kwitansi dsb, agar tidak menyimpang dari prinsip adil dan saling menguntungkan.</p>
<p>3. Jika hal-hal yang diatur cukup kompleks, maka diskusikan poin-poin tersebut dengan rekan bisnis anda atau pelajari dulu setidaknya minta waktu satu hari untuk mempelajarinya. Jika bingung konsultasikan pada ahlinya, bisa melalui teman anda yang ahli dibidangnya. Jangan sekali-kali menganggap remeh suatu pernyataan hukum.</p>
<p>4. Bagi pemula mulailah menghargai diri sendiri dengan memiliki tarif yang layak sesuai dengan dedikasi dan kualitas yang anda berikan.</p>
<p>Demikian saya sampaikan artikel ini sekedar untuk berbagi pengalaman, agar dapat dimaknai dan diaplikasikan lebih lanjut khususnya bagi pemula agar tetap mampu eksis dalam kancah bisnis disain grafis yang tidak ada matinya. Selamat berkarya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=31&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/legalitas-transaksi-dalam-bisnis-disain-grafis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>jamu sehat JAKULA</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/jamu-sehat-jakula/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/jamu-sehat-jakula/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Dari artikel sebelumnya, kami dapat mengatakan bahwa desain kemasan jamu sehat JAKULA ini sudah memenuhi syarat-syarat desain grafis yang baik. Di balik desain estetisnya yang sederhana, desain ini cukup komunikatif dan informatif pada masyarakat jaman itu. Yang perlu diingat adalah sekitar tahun 1979-an (tahun perkiraan jamu ini mulai diproduksi) konsumen Indonesia sebagian besar belum mengenal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=29&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari artikel sebelumnya, kami dapat mengatakan bahwa desain kemasan jamu sehat JAKULA ini sudah memenuhi syarat-syarat desain grafis yang baik. Di balik desain estetisnya yang sederhana, desain ini cukup komunikatif dan informatif pada masyarakat jaman itu. Yang perlu diingat adalah sekitar tahun 1979-an (tahun perkiraan jamu ini mulai diproduksi) konsumen Indonesia sebagian besar belum mengenal huruf sehingga ilustrasi pada label jamu sangat membantu konsumen untuk mengerti kegunaan dari produk ini. Image obat kuatnya berhasil tersampaikan melalui ilustrasi pria berotot pada label jamu sehat JAKULA.</p>
<p>Jamu ini juga kami simpulkan sebagai produk yang cukup berhasil dari segi penjualan karena produk ini masih bisa bertahan sampai abad modern ini, bahkan diekspor ke Malaysia(menurut website PT.Tenaga Tani Farma, Produsen Jakula). Hal ini tentunya tidak terlepas dari desain label yang merupakan salah satu media promosi.</p>
<p>Dari segi grafis, warna cukup kontras dengan background. Jenis tulisan mudah terbaca, teks yang ditampilkan juga sudah jelas, singkat, mudah terbaca dan kami nilai menyatu dengan desain keseluruhan.</p>
<p>Dari segi warna, warna merah ternyata merupakan simbol kejantanan, sesuai dengan fungi produk yang dijual. Di artikel tersebut juga disebutkan bahwa warna merah disukai Sumatera Utara. Kemungkinan warna ini juga disukai di Aceh mengingat letak geografis yang berdekatan dengan Sumatera Utara.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=29&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/jamu-sehat-jakula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkomunikasi Lewat Tanda (Visual)</title>
		<link>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/berkomunikasi-lewat-tanda-visual/</link>
		<comments>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/berkomunikasi-lewat-tanda-visual/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 19:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oinx42</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oinx42.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sumbo Tinarbuko Keberadaan desain komunikasi visual sangat lekat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Ia tak bisa lepas dari sejarah manusia. Karena ia merupakan salah satu usaha manusia untuk meningkatkan kualitas hidup. Desain komunikasi visual sangat akrab dengan kehidupan manusia. Ia merupakan representasi sosial budaya masyarakat, dan salah satu manifestasi kebudayaan yang berwujud produk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=25&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Sumbo Tinarbuko</p>
<p>Keberadaan desain komunikasi visual sangat lekat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Ia tak bisa lepas dari sejarah manusia. Karena ia merupakan salah satu usaha manusia untuk meningkatkan kualitas hidup.</p>
<p>Desain komunikasi visual sangat akrab dengan kehidupan manusia. Ia merupakan representasi sosial budaya masyarakat, dan salah satu manifestasi kebudayaan yang berwujud produk dari nilai-nilai yang berlaku pada waktu tertentu. Ia merupakan kebudayaan yang benar-benar dihayati, bukan kebudayaan dalam arti sekumpulan sisa bentuk, warna, dan gerak masa lalu yang kini dikagumi sebagai benda asing terlepas dari diri manusia yang mengamatinya.</p>
<p>Menurut Widagdo (1993:31) desain komunikasi visual dalam pengertian modern adalah desain yang dihasilkan dari rasionalitas. Dilandasi pengetahuan, bersifat rasional, dan pragmatis. Jagat desain komunikasi visual senantiasa dinamis, penuh gerak, dan perubahan. Hal itu karena peradaban dan ilmu pengetahuan modern memungkinkan lahirnya industrialisasi. Sebagai produk kebudayaan yang terkait dengan sistem sosial dan ekonomi, desain komunikasi visual juga berhadapan pada konsekuensi sebagai produk massal dan konsumsi massa.</p>
<p>Terkait dengan itu, T. Sutanto (2005:15-16) menyatakan, desain komunikasi visual senantiasa berhubungan dengan penampilan rupa yang dapat dicerap orang banyak dengan pikiran maupun perasaannya. Rupa yang mengandung pengertian atau makna, karakter serta suasana, yang mampu dipahami (diraba dan dirasakan) oleh khalayak umum atau terbatas. Dalam pandangan Sanyoto (2006:8) desain komunikasi visual memiliki pengertian secara menyeluruh, yaitu rancangan sarana komunikasi yang bersifat kasat mata.</p>
<p>Desain komunikasi visual adalah ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan daya kreatif, yang diaplikasikan dalam berbagai media komunikasi visual dengan mengolah elemen desain grafis terdiri dari gambar (ilustrasi), huruf, warna, komposisi dan layout. Semuanya itu dilakukan guna menyampaikan pesan secara visual, audio, dan audio visual kepada target sasaran yang dituju. Desain komunikasi visual sebagai salah satu bagian dari seni terap yang mempelajari tentang perencanaan dan perancangan berbagai bentuk informasi komunikasi visual. Perjalanan kreatifnya diawali dari menemukenali permasalahan komunikasi visual, mencari data verbal dan visual, menyusun konsep kreatif yang berlandaskan pada karakteristik target sasaran, sampai dengan penentuan visualisasi final desain untuk mendukung tercapainya sebuah komunikasi verbal-visual yang fungsional, persuasif, artistik, estetis, dan komunikatif.</p>
<p>Artinya, menurut Sumbo Tinarbuko, desain komunikasi visual dapat dipahami sebagai salah satu upaya pemecahan masalah (komunikasi, atau komunikasi visual) untuk menghasilkan suatu desain yang paling baru di antara desain yang baru (Tinarbuko, 1998:66)</p>
<p>Istilah desain komunikasi visual, dalam bahasa gaul anak muda disebut dekave, digunakan untuk memperbaharui atau memperluas jangkauan cakupan ilmu dan wilayah kerja kreatif desain grafis. Di dalam ranah desain komunikasi visual ini dipelajari semua bentuk komunikasi yang bersifat komunikasi visual seperti desain grafis, desain iklan, desain multimedia interaktif.</p>
<p>Desain Grafis</p>
<p>Desain grafis dipelajari dalam konteks tataletak dan komposisi, bukan seni grafis murni. Area kerja kreatif desain grafis di antaranya: stationary kit atau sales kit: desain kartu nama, kop surat, amplop, map, bolpoint. Profil usaha, annual report, corporate identity yang terdiri logo dan trade mark berikut aplikasi penerapannya. Desain grafis lingkungan berupa sign system: papan petunjuk arah, papan nama dan infografis: chart, diagram, statistik, denah, dan peta lokasi. Desain grafis industri, sistem informasi pada jasa dan produk industri. Desain label, etiket, dan kemasan produk. Desain beragam produk percetakan dari mulai prepress sampai hasil cetakan akhir. Perencanaan dan perancangan pameran produk dan jasa industri. Grafis arsitektur berikut produk sign system. Desain perwajahan buku, koran, tabloid, majalah, dan jurnal. Desain sampul kaset, dan cover CD. Desain kalender, desain grafis pada kaos oblong, desain kartu pos, perangko, dan mata uang. Desain stiker, pin, cocard, id card, desain undangan, desain tiket dan karcis, desain sertifikat, dan ijasah. Desain huruf dan tipografi. Ilustrasi dan komik.</p>
<p>Desain Iklan</p>
<p>Desain iklan dipelajari dalam konteks desain, bukan komunikasi marketing dan penciptaan merek atau aktivitas branding. Desain iklan atau popular dengan sebutan advertising, ranah kreatifnya meliputi: kampanye iklan komersial dan perancangan iklan layanan masyarakat. Aplikasi perancangan dan perencanaan desain iklan komersial maupun iklan layanan masyarakat (nonkomersial) senantiasa melibatkan seluruh media periklanan yang meliputi: pertama, media iklan lini atas (above the line advertising), yakni: jenis-jenis iklan yang disosialisasikan menggunakan sarana media massa komunikasi audio visual. Misalnya surat kabar, majalah, tabloid, iklan radio, televisi, bioskop, internet, telepon seluler. Pada umumnya, biro iklan yang bersangkutan mendapat komisi karena pemasangan iklan tersebut, Kedua, media iklan lini bawah (below the line advertising), yaitu kegiatan periklanan yang disosialisasikan tidak menggunakan media massa cetak dan elektronik. Media yang digunakan berkisar pada printed ad: poster, brosur, leaflet, folder, flyer, katalog, dan merchandising: payung, mug, kaos, topi, dompet, pin, tas, kalender, buku agenda, bolpoint, gantungan kunci. Ketiga, new media: ambient media, guerillas advertising, theatrical advertising, adman.</p>
<p>Desain Multimedia Interaktif</p>
<p>Desain multimedia interaktif dipelajari dalam konteks tampilan dan pelengkap desain, bukan interaksi manusia dengan komputer. Animasi dipelajari dalam konteks penciptaan gerak yang menarik, bukan untuk bertutur dan bercerita. Cakupan wilayah kreatif desain multimedia interaktif diantaranya meliputi: animasi 3D, dan motion graphic, fotografi, sinetron, audio visual, program acara televisi, bumper out dan bumper in acara televisi, film dokumenter, film layar lebar, video klip, web desain, dan CD interaktif.</p>
<p>Dengan demikian, sejatinya konsentrasi utama desain komunikasi visual adalah desain grafis plus. Penampilan sehari-hari desain komunikasi visual hanya terdiri dari dua unsur utama: verbal (tulisan) dan visual (gambar tangan, fotografi, atau image olahan komputer grafis). Dalam konteks ini, menurut Andi S Boediman, penekanannya pada segi visual. Tetapi dalam perkembangannya agar desain grafis terlindung dalam bentangan payung desain komunikasi visual maka perlu dilengkapi dan ditunjang oleh beberapa bidang ilmu sosial yang bersifat wacana maupun praksis yang dirasakan cukup signifikan (Boediman, 2004).</p>
<p>Pencetus Ide Baru</p>
<p>Desain komunikasi visual, yang dalam bentuk kehadirannya seringkali perlu ditunjang dengan suara, menurut A.D. Pirous (1989), pada hakikatnya adalah suatu bahasa. Tugas utamanya adalah membawakan pesan dari seseorang, lembaga, atau kelompok masyarakat tertentu kepada orang lain. Sebagai bahasa, maka efektivitas penyampaian pesan tersebut menjadi pemikiran utama seorang desainer komunikasi visual. Untuk itu, seorang desainer haruslah, pertama, memahami betul seluk beluk bentuk pesan yang ingin disampaikan.</p>
<p>Dengan memahami bentuk pesan yang ingin disampaikan, maka seorang desainer akan dengan mudah ‘’mengendalikan’’ target sasaran untuk masuk ke dalam jejaring komunikasi visual yang ditawarkan oleh sang komunikator (desainer komunikasi visual). Sebab sejatinya, karya desain komunikasi visual mengandung dua bentuk pesan sekaligus, yaitu pesan verbal dan pesan visual. Tetapi dalam konteks desain komunikasi visual, bahasa visual mempunyai kesempatan untuk merobek konsentrasi target sasaran, karena pesannya lebih cepat dan sangat mudah dipahami oleh parapihak.</p>
<p>Kedua, mengetahui kemampuan menafsir serta kecenderungan kondisi fisik maupun psikis kelompok masyarakat yang menjadi sasaran.</p>
<p>Ketiga, harus dapat memilih jenis bahasa dan gaya bahasa yang serasi dengan pesan yang dibawakannya. Selain itu juga tepat untuk dibicarakan secara efektif, jelas, mudah, dan mengesankan bagi si penerima pesan.</p>
<p>Desain komunikasi visual, sebagai suatu sistem pemenuhan kebutuhan manusia di bidang informasi visual melalui simbol-simbol kasat mata, dewasa ini pengalami perkembangan sangat pesat. Hampir di segala sektor kegiatan manusia, simbol-simbol visual hadir dalam bentuk gambar, sistem tanda sampai display di berbagai pusat perbelanjaan dengan segala aneka daya tariknya.</p>
<p>Gambar merupakan salah satu wujud simbol atau bahasa visual yang di dalamnya terkandung struktur rupa seperti garis, warna dan komposisi. Ia dikelompokkan dalam kategori bahasa komunikasi nonverbal, dibedakan dengan bahasa verbal yang berwujud tulisan atau pun ucapan. Di dalam rancang grafis, yang kemudian berkembang menjadi desain komunikasi visual, banyak memanfaatkan daya dukung gambar sebagai simbol visual pesan guna mengefektifkan komunikasi. Upaya mendayagunakan simbol-simbol visual berangkat dari kenyataan bahwa bahasa visual memiliki karakteristik yang bersifat khas, bahkan istimewa, untuk menimbulkan efek tertentu pada pengamatnya. Hal demikian ada kalanya sulit dicapai bila diungkapkan dengan bahasa verbal.</p>
<p>Ditambahkan Umar Hadi (1998), bahwa sebagai bahasa, desain komunikasi visual adalah ungkapan ide dan pesan dari perancang kepada masyarakat yang dituju melalui simbol-simbol berwujud gambar, warna dan tulisan. Ia akan komunikatif apabila bahasa yang disampaikan itu dapat dimengerti oleh khalayak sasarannya. Ia juga akan berkesan apabila dalam penyajiannya tersebut terdapat suatu keunikan sehingga ia tampil secara istimewa, mudah dibedakan dengan lainnya. Maka, di dalam berkomunikasi, diperlukan sejumlah pengetahuan yang memadai seputar siapa target sasaran yang akan dituju, dan bagaimana cara sebaik-baiknya berkomunikasi dengan mereka. Semakin baik dan lengkap pemahaman kita terhadap hal-hal tersebut, maka akan semakin mudah untuk menciptakan bahasa visual yang komunikatif.</p>
<p>Desain modern merupakan keseluruhan proses pemikiran yang akan membentuk sesuatu, dengan menggabungkan fakta, konstruksi, fungsi, dan estetika. Desain adalah suatu konsep untuk memecahkan fenomena bentuk, bahan, teknik, rupa, pemakaian dan fungsi guna yang dinyatakan dalam bentuk dan gambar. Semuanya itu diabdikan untuk memenuhi kebutuhan manusia.</p>
<p>Dalam percepatan jagad yang kiat pesat dan akselerasi dunia komunikasi yang semakin dahsyat, mengakibatkan peran dan posisi desain komunikasi visual berikut desainernya mampu menempati singasana terhormat.</p>
<p>Dewasa ini, desain komunikasi visual merupakan suatu karya seni terap yang padat teknologi, mempunyai dampak sangat komprehensif kepada masyarakat sebagai khalayak sasaran. Mengapa? Karena keberadaannya mampu menginformasikan jasa dan produk baru kepada audience. Ia mempunyai kharisma kepada konsumen untuk diajak membeli dan menggunakan barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Ia juga piawai merangsang khalayak untuk berpikir perihal sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Dengan demikian, ketika kita mengenal dan menggeluti desain komunikasi visual, maka kita seolah-olah menjadi malaikat pewarta kabar gembira kepada segenap manusia dalam bentuk komunikasi visual yang mencakup segala bidang kehidupan manusia, baik dengan target komersial maupun tujuan sosial.</p>
<p>Dalam hal bentuk atau visualisasinya, desain komunikasi visual berhadapan dengan sejumlah alat, teknik, bahan dan ketrampilan. Ungkapan yang baik, akan lebih bernilai apabila didukung dengan teknik yang baik, dan ditunjang kepiawaian dalam mewujudkannya. Seperangkat alat yang dimanfaatkan oleh desain komunikasi visual, antara lain adalah aspek visual yang meliputi bentuk ilustrasi, layout, warna serta aspek verbal yang terdiri dari teks dan tipografi (Jewler, dan Drewniany, 2001: 57).</p>
<p>Mitos desain komunikasi visual dan orang yang menggeluti profesi itu tidak semata-mata hanya seseorang yang jagoan ‘menyetir’ komputer grafis dengan segala program-programnya dan piawai membuat berbagai ilustrasi menggunakan rapido, pensil warna, cat poster, dan airbrush. Tetapi yang lebih hakiki, ia seorang perancang, pencetus, dan penemu ide pertama.</p>
<p>Agar mempunyai semangat sebagai seorang perancang yang selalu mencetuskan, menemukan ide-ide brilian dan selalu tampil dengan nuansa kebaruan (novelties), maka konsep pendidikan tinggi desain komunikasi visual harus senantiasa mengedepankan aktivitas proses belajar mengajar yang berfondasikan pada unsur kreativitas dan inovasi. Artinya, sebuah proses mental, tahapan berpikir yang mampu memunculkan ide-ide baru dan bila diaplikasikan secara praktis akan menghasilkan cara-cara yang lebih efisien.</p>
<p>Orang-orang kreatif dan inovatif biasanya berpikir secara konvergen dan divergen. Perkawinan dari dua konsep pemikiran tersebut akan menghasilkan berbagai fantasi dan imajinasi dahsyat, yang keberadaannya sangat berguna untuk melahirkan berbagai macam ide pada karya desain komunikasi visual yang bermutu, menarik, unik, komunikatif, dan persuasif.</p>
<p>Parameter keberhasilan sebuah proses kreatif dan inovatif di lingkungan pendidikan tinggi desain komunikasi visual bisa terlihat manakala para peserta didik mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap pemecahan masalah komunikasi (verbal dan visual), lancar dan orisinal dalam berpikir kreatif, fleksibel, dan konseptual, cepat mendefinisikan dan mengelaborasi berbagai macam persoalan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat disegala bidang.</p>
<p>Ketika proses kreatif dan inovatif itu sudah menancap di benak peserta didik sebagai sebuah ideologi, maka keberadaannya diharapkan bisa menjadi agen perubahan dan pioner pembaruan dalam mencetuskan dan menghasilkan berbagai macam ide yang dituangkan pada karya desain grafis yang kampiun.</p>
<p>Selain itu, profesi desainer komunikasi visual menjadi bagian dari mata rantai sebuah penelitian sosial. Desainer komunikasi visual, sebelum berkarya haruslah melakukan berbagai kajian dengan pendekatan lintas ilmu. Penggembaraan kreatifnya diawali dari menemukenali permasalahan komunikasi visual, mencari data verbal dan visual, menyusun konsep kreatif yang berlandaskan pada karakteristik target sasaran, sampai dengan penentuan visualisasi final desain untuk mendukung tercapainya sebuah komunikasi verbal-visual yang fungsional, persuasif, artistik, estetis, dan komunikatif. Hal itu dilakukan untuk lebih memfokuskan lubang bidik karya desain komunikasi visual.</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>Hadi, Umar. 1998. ‘’Memahami Desain Grafis’’. Katalog Pameran Desain Grafis, LPK Visi Yogyakarta.</p>
<p>Jewler, A. Jerome., dan Drewniany Bonnie, L. 2001. Creative Strategy in Advertising. USA: Wadsworth Thomson Learning, 10 Davis Drive Belmont.</p>
<p>Pirous, AD. 1989. ‘’Desain Grafis pada Kemasan’’. Makalah Simposium Desain Grafis, FSRD ISI Yogyakarta.</p>
<p>Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2006. Metode Perancangan Komunikasi Visual Periklanan. Yogyakarta: Dimensi Press.</p>
<p>Sumaryono, E. 1995. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.</p>
<p>Sutanto, T. 2005. ‘’Sekitar Dunia Desain Grafis/Komunikasi Visual’’. Pura-pura Jurnal DKV ITB Bandung. 2/Juli. 15-16.</p>
<p>Tinarbuko, Sumbo. 1998. ‘’Memahami Tanda, Kode, dan Makna Iklan Layanan Masyarakat’’. Tesis. Bandung: ITB</p>
<p>Widagdo. 1993. ‘’Desain, Teori, dan Praktek’’. Seni Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni. BP ISI Yogyakarta III/03.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/oinx42.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/oinx42.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/oinx42.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/oinx42.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/oinx42.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/oinx42.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/oinx42.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/oinx42.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/oinx42.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/oinx42.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/oinx42.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/oinx42.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/oinx42.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/oinx42.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=oinx42.wordpress.com&amp;blog=2447357&amp;post=25&amp;subd=oinx42&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oinx42.wordpress.com/2009/10/16/berkomunikasi-lewat-tanda-visual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/077d361023a949b8776599460385142e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">oinx42</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
